Dear, My Beloved Grandpha..

Di pengujung akhir semester ini, beberapa waktu yang lalu setelah menyelesaikan semua tanggung jawab yang ada, sendiri dalam sebuah warung makan. Pikiran entah melayang kearah mana. Aku merindukan seorang sosok yang berarti dalam hidup Aku.

Kemarin setelah datang melihat evaluasi di kampus, Aku memutuskan untuk berangkat ke kota kelahiran Ibu, Solo. Dimana di hari sebelumnya Ibu mengabarkan bahwa beliau, Bapak, dan kedua kakakku akan berangkat ke Solo. “Ini akan menjadi hari yang spesial.” kataku dalam hati. Hari itu di dalam bis, setelah mengabarkan Ibu bahwa Aku telah berangkat dan memasang headset, Aku kembali merindukannya. Tidak pernah aku berhenti merindukannya. Menghadap ke jendela hingga terkantuk-kantuk, mengingat segala hal saat Aku masih akan selalu melihat wajahnya. Ah, Aku sungguh ingin di foto wisudaku nanti ada wajahnya.

Image

Terbangun dari tidur, Aku merasa aneh. Tidak ada yang menanyakan posisiku sudah sampai mana. Tidak ada yang bisa ditelfon dan tidak ada yang membalas smsku. Jam menunjukan jam 14:25, Aku bersiap turun dari bis di persimpangan jalan yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Aku memutuskan untuk berjalan kaki saja ketimbang naik becak sambil sesekali menelfon orang rumah dan tetap tidak ada yang mengangkat. Sampai akhirnya kakakku akhirnya mengangkat telfonku dan akan menjemputku. Setelah bersamanya, Aku bertanya yang lain kemana karna daritadi sudah memberikan kabar, tapi tetap tidak ada kabar. “Tadi lagi pada ngobrol sama Yangti, hp ditinggal semua.” kata kakakku.

Sesampainya di rumah Solo, Aku membayangkan sosoknya di depan pintu depan, hal yang selalu dilakukannya ketika kami sekeluarga akan datang. Aku merebahkan badanku di sofa ruang tamu, sesekali ngobrol dan becanda dengan kedua kakakku. Aku selalu suka saat-saat seperti ini. Caring and Loving. Laughing and Talking. Dan Aku membayangkannya lagi di sudut ruangan, ikut tersenyum melihat kami becanda.

Saat makan malam tiba bersama keluarga yang ada di Solo. Quality time of course. Aku, membayangkannya lagi berada ditengah-tengah kita ikut menyantap makan malam hari itu. Malam ini terlalu cepat jika Aku harus kembali ke Semarang besok pagi-pagi sekali karna ada teman yang menikah.

Pagi ini, jam menunjukan pukul 07:05 saat Aku di drop di depan pintu terminal bis. Sepertinya jam 7 pagi dirasa terlalu cepat bagi para supir bis untuk memberangkatkan bisnya di hari Minggu. “Hari ini hampir semua bis berangkat jam 8, paling cepat jam setengah 8. Sarapan dulu aja mas.. hehehe” kata seorang supir bis kepadaku. Setelah membeli sebuah koran sebagai bahan bacaan, Aku merasa ada yang kurang karna tidak bisa menyempatkan waktu untuk mampir ke tempatnya. Tapi, Aku rasa, Aku sudah cukup mengenangnya kemarin.

Hari Kemerdekaan RI tahun ini, menjadi genapnya 2 tahun Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.


And dear, My Beloved GrandFather, I miss you a lot. I really really really miss you a lot. Aku berharap Eyangkung bisa selalu ada untuk kami semua disini, walaupun Aku tau itu tidak mungkin. Aku harap Eyang ada saat Aku wisuda nanti dan Aku melihat senyum bangga itu dari wajah Eyangkung, walaupun Aku tau itu tidak akan pernah terjadi.

Ya Allah, berikan tempat terbaik dan sebaik-baiknya yang Kau punya untuk Eyang Kakung-ku.

Ya Allah, Aku begitu merindukan sosoknya disini, sampai detik ini, sampai Aku selesai menyelesaikan tulisan ini.

Eyangkung, doaku selalu untuk Eyang.. Miss you, My Big Daddy.. :”)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s