“Kamu arsitek, ya?”

Sejak awal masuk kuliah jurusan Arsitektur, gue sudah mulai dan selanjutnya selalu mendengar anekdot (anekdot bukan sih istilahnya? Hahaha..) atau menurut gue sih sekedar jokes dan opini biasa bahwa mahasiswa arsitektur hanya 20% diantaranya yang akan benar-benar menjadi arsitek. Well, itu haram? Tidak dibenarkan? Menurut gue sih sama sekali engga.

Sebelumnya, dalam tulisan ini gue tidak bermaksud menyinggung perasaan siapa pun atau pun berusaha mengubah pandangan sesorang kepada seseorang tertentu lainnya. Disini… Ya, disini salah satu media yang sah sebagai penyaluran kekecewaan gue akan sesuatu. Toh gue juga punya perasaan kan ya? Kalau nantinya ada yang merasa bahwa tulisan ini “offense”, sebaiknya jangan tutup telinga sama hati, ada baiknya introspeksi dan merubah diri. Dalam tulisan ini juga, gue juga sedikit demi sedikit introspeksi diri sendiri.

Semester ini adalah semester paling buang-buang waktu, maksudnya gue yang terlalu buang-buang waktu. Dan, semester ini adalah semester yang paling melelahkan, paling capek. Capek batin. Capek fisik sih gak seberapa menurut gue, masih bisa diatasi dengan minum vitamin dan sebagainya. Lah, kalau capek batin? Ada obatnya?

Di samping beberapa masalah yang sedang gue hadapi sendiri beberapa bulan terakhir, yang hanya memang bisa diselesaikan sendirian, semester ini memang semester terberat. Ibu dan teman terpercaya gue di kampus, Yunam, adalah saksi mata dan saksi hidup gue meneteskan air mata untuk semester ini. Di kampus pula gue nangisnya, mungkin saat itu ada beberapa anak 2011 yang menyadarinya juga, saat break shalat maghrib acara Welcoming Archquake 2012. Gue malu? Gak lah, ngapain. Untuk sesuatu hal yang gak bisa lo lampiaskan dengan marah ketika bertemu dengan kelapangan hati yang jernih terpancar dari suara Ibu ditelfon, hanya air mata yang bisa tercurahkan.

Terkadang, disini gue merasa sangat bersyukur, pada kondisi seperti ini dengan masalah yang gue hadapi, telah memutuskan untuk tidak lagi bekerja sebagai Departemen 3 di Himpunan Jurusan, walaupun jujur gue sangat-sangat merindukan gue merupakan bagian di dalamnya.

Gue selalu percaya bahwa setiap masalah, setiap kejadian, setiap detik hal yang sedang kita hadapi akan ada selalu arti dibalik itu semua. Masalah ini sempat membuat gue putus asa, gue simpen ini sendiri, sampai pada akhirnya gue tumpah juga cerita dengan emosi ke temen cerita gue juga, yang juga senior gue, Didit. Walaupun dengan sigap dia menyudahi gue untuk melanjutkan cerita masalah apa yang gue alami. Paling tidak, itu cukup melegakan.

“If we try to see something positive in everything we do, life won’t necessarily become easier but it becomes more valuable.”

……

Kembali kepada topik paragraf-paragraf awal, sesekali kita pernah mendengar kata passion, dan mungkin beberapa (merasa) tau apa maksud dari passion itu sendiri.

Menurut gue pribadi, prosentase 20% tadi valid atau tidaknya itu, tidak menjadi acuan akan menjadi apa setelah lulus dari sini, jurusan arsitektur. Gue seringkali melihat sikap ketakutan dari berupa tindakan dan juga kata-kata dari beberapa orang ketika menanggapi jokes opini 20% itu. Bagi gue, disini lah peran passion, yang ada sebenarnya sudah ada di dalam diri kita, sebenarnya untuk kita temukan. Mau kemana sih arah hidup kita nanti? Kita, cepat atau lambat akan lepas dari orang tua kan? Khususnya buat cowok sih, bagi gue, selama itu bisa menghidupi orang tua gue di hari tuanya, menafkahi keluarga gue nanti, itu sudah cukup memuaskan bagi gue.

Bukan bermaksud untuk menggurui, passion itu membuat kita bahagia untuk apa pun itu yang kita kerjakan. Gak tidur berhari-hari kek, mau bolak-balik kesana kesini lah, itu gak akan kerasa kalau kita memang merasa passion kita disana. Dari buku yang gue baca, “Your Job Is Not Your Career”-nya coach Rene Suhardono (@ReneCC), dari buku ini gue belajar banyak untuk mengenali diri gue sendiri, apa pun yang gue kerjakan. Mungkin sedikit yang sadar, dalam proses ini untuk apa saja yang kita keluhkan, untuk mana saja yang kita tidak pernah berpikir 2 kali untuk mengerjakannya. Kalau memang kuliah disini emang yang di-idam-idamkan, kenapa masih juga ngeluh soal tugas dan bla-bla-bla? Masalah? Belum mengenali diri sendiri mungkin kemana arah kita sebenarnya? Capek itu manusiawi kok, ngantuk apalagi kalau didepan laptop terus, alamiah. Mengeluh itu baru yang dibuat oleh diri sendiri. Passion itu membuat kita bahagia, ada kepuasan tersendiri saat kita selesai menyelesaikannya. Kata kakak gue, “Don’t stop when you’re tired. Stop when you’re done.”

Melihat cukup seringnya gue bertemu dengan temen-temen yang melanjutkan pendidikan berdasarkan kata-kata orang tua. Bahkan dalam penentuan jalan hidupnya sendiri, diumur yang sudah sedewasa ini, peran orang tua masih sangat dominan. Gue selalu percaya dan akan selalu percaya bahwa tidak ada satu orang tua pun di dunia ini yang ingin menjerumuskan anaknya atau mungkin menjatuhkan anaknya. Tapi, guys, kita sangat sangat berhak untuk menentukan kebahagiaan kita sendiri. Sangat-sangat-sangat berhak untuk itu. Seperti yang gue bilang diatas, kita gak selamanya akan terus hidup dibawah duit orang tua.

Kalau semua orang mengacu pada “money oriented”, mau sampai kapan juga lo gak akan pernah merasa kaya dalam hidup. Tabiat manusia kan? Tidak pernah merasa puas. Gue selalu percaya harta yang kita share kesesama sesungguhnya tidak pernah hilang. Kalau ikhlas dan gak usah diinget-inget, itu akan jadi tabungan disimpen oleh Allah, dan akan dikembalikan pada saat kita memang membutuhkan. Rezeki itu udah ada jalannya masing-masing.

Pada dasarnya, untuk gue pribadi sih, selama itu masih berkaitan dengan apa yang kita pelajari di perguruan tinggi, itu sah, dan tidak harus jadi arsitek kan? Setiap orang mempunyai jalan rezeki dan hidupnya masing-masing kok. Gue dari dulu seneng banget nulis-nulis kayak gini, dan seringkali gue juga suka nulis puisi. Tapi, ya tetep sih, harus tergantung mood. Untuk puisi, kalau ada yang diinget, gue saat itu juga bisa nulis puisi buat yang lagi diinget itu. Tssaaaaahh.. Hehehe.. Dari nulis, mungkin dan gak ada yang tau, gue bisa jadi penerus Imelda Akmal? Gue hobby yang namanya traveling – backpacking, mungkin bisa jadi arsitek pariwisata? Gue cinta dunia fotografi, mungkin gue bisa jadi Sonny Sandjaya (suami Imelda Akmal) yang jadi fotografer arsitektur? Atau jadi seperti Jerry Aurum? Itu semua balik ke diri masing-masing, sejauh mana kita ingin mengenali diri kita sendiri, bukan mengenali orang lain. Dan, gue juga sangat menyukai bidang interior! Yeah! (apasih…)

Nah, pada intinya sih, paling tidak, kita harus punya sesuatu dimana harus kita gantungkan masa depan kita sendiri dan bukan bergantung sama duit orang tua lagi. Dan, ketika ada yang bertanya, “wah, lulusan arsitektur, berarti kamu arsitek ya?” “bukan, saya pegawai bank..” Sepertinya kita semua tidak akan pernah mau jika berakhir seperti ini. Iya kan? 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s