Pahlawan Masa Kecil

Mungkin tulisan gue kali ini akan gue dedikasikan dan ditujukan untuk kakak saya, Bayu Adi Persada. Sebuah pandangan perspektif setelah kepulangannya dari tugas mulia di desa Bibinoi, pulau Bacan, sebagai Pengajar Muda dari LSM Indonesia Mengajar. Bagi seluruh anak-anak kecil dan siswa-siswa SD yang ada disana, yang sebelumnya mungkin tidak tersentuh oleh ilmu pengetahuan yang baik, mungkin kakak saya adalah pahlawan masa kecil mereka saat mereka beranjak dewasa nanti. Bagi seluruh wali murid sekaligus seluruh masyarakat yang ada disana, mungkin kakak saya adalah sesungguhnya pahlawan di bumi ini. Ya, pahlawan tanpa tanda jasa. Yang sebagaimana pemerintah hanya bisa janji untuk memberantas kemiskinan dan kebodohan di negeri ini.

Menjadi berbeda dengan teman-teman sebaya bukan lah hal yang tidak pernah muda. Di saat teman-teman seangkatan, teman-teman seperjuangannya saat masa kuliah sibuk meniti karir dengan layak, kakak saya memilih untuk memulai segalanya dengan mengabdi kepada negeri ini, melanjutkan janji kemerdekaan negeri ini, mencerdaskan bangsa. Dengan wadah sebuah Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) Indonesia Mengajar yang diusung oleh rektor Universitas Paramadina, Bapak Anies Baswedan. Resmi terbentuk tahun 2010, tidak membuat kakak saya berubah pikiran saat itu. Saya selalu percaya dan yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa keputusan yang dipilih oleh kakak-kakak saya tidak pernah gegabah, terburu-buru. Melainkan dengan pikiran yang sangat matang dan sepenuh hati, seperti saya selalu mendukungnya dengan sepenuh hati. Mereka adalah orang-orang yang selalu saya banggakan.

Pak Anies sendiri pun awalnya hanya ber-ekspektasi bahwa pendaftar mungkin sekitar 500-an, yang ternyata ada 1300-an yang mendaftar untuk mengikuti seleksi hingga mencapai 50 orang saja yang akan dikirim ke 5 daerah dan perdaerah dibagi lagi menjadi 10 desa yang berbeda. Tanpa sinyal, tanpa kemewahan, tanpa titel apa pun. Dan saya tidak heran bahwa kakak saya lolos dan termasuk di dalamnya. Tanggal 10 November 2010, kakak saya dan seluruh tim pengajar muda lain (sebutan untuk para pengajar di IM) di berangkatkan.

Setahun sudah dia mengabdi disana, dengan seluruh apa yang dia punya untuk mereka semua yang ada disana. Dan di hari terakhir ditempat pengabdiannya, sesaat sebelum kepulangannya, saat itu saya mendapatkan sms dari nya, “Diantar oleh semua warga ke pantai, banyak yg menangis. Best feeling I’ve ever had in my entire life.” Terdiam beberapa saat, bergetar, mencoba ikut merasakan apa yang saat itu kakak saya rasakan. Dan suatu saat nanti, saya berharap dapat merasakan hal yang sama dengan apa yang kakak saya rasakan waktu itu. Berarti untuk orang lain, berguna bagi orang banyak, dirindukan banyak orang karena tindakannya. Hal yang belum pernah saya rasakan seumur hidup. Semoga nanti, Amin.

Saya percaya setiap orang mempunyai jalannya masing-masing dalam menjalani dan menghadapi hidupnya untuk menjadikannya lebih bermakna dan menjadi lebih baik lagi. Ini lah jalan yang sudah ditempuh olehnya, dan selalu menyenangkan setiap mendengarkan kabar dan cerita darinya. Semoga saya dan kita semua selalu diberikan kesempatan untuk masih bisa berbagi dengan orang lain dan menjadikan hidup kita lebih baik dan lebih bermakna dari sebelumnya. Amin. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s