Siapa Lagi Kalau Bukan Kita?

Bermula dari Twitter, pemikiran ini mulai berkembang. Opini yang timbul bukan hanya 1-2 kejadian, 1-2 minggu, atau pun 1-2 bulan. Dan memang bersifat subjektif. Bermula dari Twitter, saya merasa cukup beruntung dengan tokoh-tokoh/akun-akun yang saya follow. Saya menemukan wawasan. Saya mengendus adanya koneksi. Saya bisa melihat dunia dari sudut pandang yang lain, dari sudut micro-blogging yang hanya mempunyai 140 karakter.

Rene Suhardono, Career Coach yang ada di timeline akun Twitter saya, dalam bukunya “Your Job Is Not Your Career” kurang lebihnya tertulis bahwa pelajaran sesungguhnya bukan yang di dapat di sekolah atau pun di rumah, melainkan pelajaran sesungguhnya adalah yang di dapat diantara keduanya. Dengan kata lain, pelajaran sesungguhnya adalah yang ada di lingkungan sekitar kita dan pengalaman-pengalaman yang kita alami. Hal yang sama juga pernah disampaikan oleh Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina dan pendiri LSM Indonesia Mengajar.

Terkadang kita terlalu sering untuk mengomentari sesuatu yang sedang berkembang tanpa dasar. Mungkin itu juga yang ada di benak Anda saat membaca tulisan ini. Kita terlalu mudah tersulut emosi dan dicuri atensi kita untuk hal-hal yang tidak penting, tidak genting yang seharusnya bisa di terima dulu dengan baik sebelum mencernanya dan menanggapinya berlebihan. Terlalu sulit sepertinya jika kita mencernanya dengan baik lalu di pahami yang di lanjutkan dengan komentar atau mungkin kritik yang mempunyai dasar. Dan yang terpenting tidak berlebihan. Kita terlalu sering menanggapi beberapa masalah dari judul saja, lalu memaki, mencela dengan emosi setelah di klarifikasi dengan penjelasan yang baik, tiba-tiba saja segala macam makian tadi lenyap ditelan tanpa rasa bersalah. Yang, kondisi seperti ini, biasanya ditanggapi oleh orang-orang yang seumuran dengan saya.

Kondisi ini berbalik 180 derajat ketika hal-hal yang muncul adalah kondisi-kondisi genting, sepi tanpa tanggapan dan tidak ingin tau. Yang seharusnya ini bisa lebih diterima oleh anak-anak muda yang kritis, tapi rasa kritis yang ada di negara ini telah terkikis dikit demi sedikit dengan sendirinya karena nuansa pesimis yang keluar dari para petinggi di negeri ini. Tapi, bukan berarti tanpa harapan kan? Justru harapan itu seharusnya ada di dalam diri pemuda-pemudanya yang kritis yang saat ini nyaris hilang. Presiden Soekarno dulu pernah berkata dalam pidatonya, “Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia.” Rasa pesimis yang muncul tanpa diminta karena beberapa kejadian yang muncul di negeri ini membuat seakan kita putus asa dengan apa yang sudah-sudah.

Pada intinya, saya sesungguhnya adalah salah satu yang sangat menikmati adanya Twitter karna saya melihat adanya kemudahan di zaman modern seperti ini untuk berbagi ilmu, berbagi informasi, berbagi ketertarikan akan sesuatu, bertukar pikiran, berbagi lelucon satu sama lain. Bukan berbagi curhatan keluhan yang terus diulang-ulang atau pun pencitraan semacamnya. Anehnya, yang saya perhatikan semenjak mengenal Twitter, justru orang-orang sangat menikmati tweet-tweet ngobrol, tweet marah, tweet ngeluh, tweet nyinyir, tweet sejenis “laper nih” “mau makan, tapi bingung makan apa”, dsb. Memang sepenuhnya hak setiap pemilik akun Twitter mau menulis apa dalam akun-nya, tapi saya cukup merasa pesimis pula dengan melihat teman-teman saya sederajat dengan tingkat keprihatinan dan tingkat ke-kritisan terhadap negara ini semakin menipis terkikis seiring dengan rasa pesimis yang datang dari negeri ini pula.

Sebuah akun dalam timeline saya, Jed Revolutia, beberapa hari lalu menulis, “Salah 1 yg bisa kt lakukan u/ pendidikan di Indonesia adalah dgn ngetweet sambil transfer ilmu & informasi ke orang lain” yang langsung saya “mark as favorites” karna saya setuju dengan pernyataan ini, sangat setuju. Jed tidak melulu men-tweet hal-hal yang serius, sesekali, termasuk sering dia pun menulis hal-hal yang menarik dan enak dibaca. Selanjutnya, Ridwan Kamil, yang tidak perlu lagi saya jelaskan siapa orang ini, menulis di akun-nya, “Mahasiswa. Punya cerdasnya. Punya staminanya. Tinggal banyakin pedulinya.”

Ketika seseorang selalu minta “follow back”, saya berpendapat, khususnya untuk saya pribadi, seharusnya mereka mempunyai sesuatu yang pantas untuk dibaca followers-nya. Keluhan dan curhatan bukanlah satu-satunya yang ingin dibaca dalam akun Twitter-nya.

Kita lah, anak-anak muda yang masih mempunyai spirit untuk menebarkan optimis di negeri ini, di muka bumi ini sebagai penerus sebuah tatanan yang sudah ada saat ini. Bukan malah menebar pesimis yang nyaris sudah tidak bisa ditampung lagi oleh negeri ini. Kalau bukan kita, lalu siapa lagi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s