Bukan Sekedar Perjalanan, Terlalu Naif.

Akhirnya nge-post  cerita jalan-jalan saya juga bulan Juli kemarin selama hampir 2 minggu menjelajahi Kamboja dan Vietnam bersama kedua kakak saya yang sudah lebih berpengalaman sebelumnya. Sebelumnya, jika Anda lebih menginginkan model cerita yang lebih bermanfaat untuk mungkin bisa kalian jadikan panduan ketika berencana kedua negara ini, silahkan mengunjungi blog kakak saya, Bintang Pramodana. Yang kebetulan link-nya ada di sebelah kanan page ini, di “Recommended Blog You Must Read”. Atau tinggal klik link ini polaroidhitamputih.wordpress.com karena saya akan bercerita dari sudut pandang yang berbeda, sudut pandang seorang pemula yang seketika addict sekali dengan yang namanya travelling and backpacking. You must try!

Preparation

Apa hal yang paling malesin dan membosankan dari berpergian apalagi ke luar negeri? Yak, tidak lain dan tidak bukan adalah packing! Andai saja kita bisa tinggal tidur dan terbangun dengan keadaan semua keperluan dan barang-barang bawaan sudah siap untuk diangkut. Ah sudahlah, tidak mungkin terjadi sampai kapan pun. Di bagian ini memang berencana tidak terlalu membahas apa pun, sekali lagi, masih pemula. hehehehe :p Tapi, bagian ini adalah tahap awal yang harus, wajib, mutlak untuk teliti dan berhati-hati dalam pengerjaannya. Oh ya, dilakukan sendiri itu lebih baik untuk perjalanan backpacking. Kenapa? Karna yang sepenuhnya mengetahui jadwal kita saat berpergian adalah kita sendiri, jadi kita harus tau betul medan disana seperti apa serta penempatan barang-barang kita saat proses packing. Sekali lagi, ini backpacking, sangat-sangat tidak dianjurkan untuk membongkar tas sebesar itu, repot!

Esensi yang saya dapat setelah melakukan backpacking  ini adalah bagaimana kita bisa menikmati perjalanan, melihat betapa Maha Besar-nya kuasa Tuhan atas ini semua, betapa Maha Kaya-nya Keagungan-Nya tanpa perlu sibuk menggeret tas koper kesana-kemari. Cukup dengan membawa tas backpack besar untuk jalan-jalan, maka kita tidak perlu rept memikirkan yang lainnya. Sebagian besar dengan asumsi pendek bahwa bacpacking juga harus ber-budget minim yang benar adanya. Apalah arti backpacking  jika kita tetap membawa uang banyak untuk makan-makan mahal, jalan-jalan (yang biasanya tidak penting tujuannya) dengan biaya tidak sedikit, dan berujung pada membeli oleh-oleh seabrek yang membuat tas kita over-baggage atau membuat tas kita penuh dengan barang belanjaan seperti Ibu-Ibu belanja di Mall saat diskon besar. Anda bisa mencobanya kalau tidak percaya.

Dan esensi dari travelling itu sendiri : “We travel, initially, to lose ourselves; and we travel, next, to find ourselves.”  -Pico Iyer. Adalah kesalahan besar jika kita jalan-jalan hanya untuk refreshing, apalagi ke negara orang. Dan inilah yang saya akan bagi ke kalian semua : ke-NAIF-an saya bahwa ini hanya jalan-jalan semata, menyegarkan pikiran akan kesibukan sehari-hari. Belajar dari kesalahan orang lain itu lebih baik, jangan anggap remeh apa pun yang mungkin akan kalian hadapi.

Kamboja

Kami tiba pertama kali di Vietnam, Saigon, Ho Chi Minh City, tapi hanya semalam dan keesokan harinya kami baru memulai petualangan di negeri tetangga Vietnam, Kamboja. Mungkin banyak orang yang tidak mengetahui apa yang bisa dilihat dan dikunjungi di Kamboja atau mungkin Vietnam, terkadang malah terdengar meremehkan. Well, seperti hal nya manusia pada umumnya, setiap negara di bumi ini pasti mempunyai kelebihan, cerita sejarah yang menakjubkan, dan keunikan sendiri hanya saja kita terkadang selalu underestimate untuk hal yang belum dicoba.

Kota pertama yang kita jejaki sesampainya di Kamboja adalah tentu saja Ibu Kota-nya, Phnom Penh, tepatnya di sepanjang Riverside, dekat dengan Royal Palace. Kita menuju Phnom Penh dengan menggunakan bis yang dilalui dari Ho Chi Minh City sekitar 9-10 jam yang tentu saja mampir di perbatasan untuk mengurus paspor dan lain-lain. Dan disinilah saya bertemu orang Indonesia pertama di perjalanan kami, tipe pertama traveller : tanpa persiapan, modal uang menengah. Dan kami adalah tipe/golongan traveller dengan persiapan matang dan budget rendah, ah setidaknya untuk kedua kakak saya. Untuk tipe traveller nekat seperti yang kami temukan tadi, sangat-sangat tidak disarankan bagi saya karna kalian hanya “Get Lost” tanpa tau harus kemana. Orang ini kira-kira berumur 40an keatas. Dia berada ke Vietnam-Kamboja hanya untuk berjalan-jalan tanpa tau tempat apa saja yang pantas dikunjungi. Bahkan dia juga tidak mengetahui bagaimana seharusnya mengurus paspor di perbatasan Vietnam-Kamboja dan belum mem-booked penginapan. Mungkin terlihat seru ya, tapi sangat-sangat wasting time buat saya, mau seberapa banyak uang yang sudah Anda siapkan. Okelah, skip ya, karna pada akhirnya kami pun berpisah dengan Bapak tadi yang memang agak sedikit annoying. hehehe.

Bis kami selanjutnya sudah siap mengantar kami menuju Siem Reap, dan disini kami menemukan tipe traveller kedua : dengan persiapan matang dan tentu saja dengan uang “cukup”. Yak, menengah keatas. Setiap perjalanan mereka di setiap kota menggunakan mobil sewaan dan sekaligus driver-nya. Jelas sekali sepertinya uang bukanlah masalah buat mereka. Tapi, mereka pun tak asal jalan-jalan begitu saja. Mereka sudah mempunyai perencanaan yang matang dengan sudah memilih spot-spot terbaik tempat yang mereka kunjungi. Di Siem Reap, tempat yang wajib kita kunjungi adalah Angkor Wat. Sebuah kawasan candi-candi yang mungkin didalamnya ada ratusan atau mungkin ribuan candi di dalamnya. Adalah sulit dan sangat kelelahan jika kami harus memutuskan untuk melihat/mengunjungi semuanya yang jarak antar candi pun bisa ber-kilo-kilometer. Dan kami memilih untuk menikmati perjalan kami dengan sepeda yang harga sewanya 1$ seharian! Ber-kilo-kilometer kita lalui, kita menggoweskan sepeda kami. Dan sampai lah kita pada candi pembuka yang gate-nya saja hampir sebesar candi Borobudur. Berbeda sekali dengan tipe traveller kedua yang mengelilingi Angkor Wat dengan mobil. How I envy you! Tapi, memang inilah yang kami cari, yang kami inginkan dari perjalanan kami. Sebuah makna yang mungkin tak semua bisa mendapatkannya.

Sekali lagi, sebelum meneruskan cerita selanjutnya, saya mungkin tidak bisa menyajikan hal-hal detail yang bermanfaat atau info-info yang berguna bagi perjalanan Anda karna yang saya tuliskan disini adalah hal-hal yang saya dapatkan sebagai traveller pemula yang didampingi oleh traveller-traveller berpengalaman yaitu kedua kakak saya sendiri.

Kami melanjutkan dengan mengayuh sepeda kami terus menerus menuju satu candi ke candi lainnya. Rasa capek dan lutut kiri yang sering sekali kambuh karna mengayuh sepeda dan berjalan ber-kilo-kilometer sering kali membuat hati ciut untuk meneruskannya. Tapi, itu semua terbayar dengan melihat dan merasakan kuasa Tuhan yang agung serta ketakjuban, keheranan melihat sebuah karya manusia dulu membuat sebuah kawasan candi-candi dengan batu-batu besar yang mungkin beratnya nyaris 1 ton, atau lebih? Entahlah, yang jelas pembangunan ini tanpa bantuan alat berat sedikit pun.

Dan karena perjalanan panjang ini lah yang membuat saya “hilang” tanpa arah dan kemudian menemukannya lagi sebagai sesuatu yang baru di dalam diri saya. Ada yang berbeda dan ada yang tak pernah saya rasakan sebelumnya. Ini lah yang biasa dicari beberapa traveller dalam setiap perjalanannya. Get Lost – Learn – Live. Menurut saya ini hanya akan tersadari bagi orang-orang yang mau menyadarinya. Mungkin kalau saja saya tidak diingatkan dari awal oleh kakak saya, saya mungkin tidak menyadarinya. Pada awalnya memang tidak, tapi saya sudah menyadari dan mempunyai keputusan.

Vietnam

Disini mungkin saya akan mulai bercerita dari beberapa hari sebelum sampai sesudah dari Halong Bay. Sebelum keberangkatan kami ke Halong Bay, kami bertemu dan berkenalan beberapa teman di Vietnam, 1 dari Korea, 2 dari Vietnam (Hanoi). Disini lah semua mental kita bermula, ngobrol dengan orang lain yang berbeda negara, jangan pernah remehkan bagian ini, sekali pun! Saya hanya berusaha berbicara sebisanya yang saya yakin secara gramatically hancur berantakan, kacau balau. Tapi, saya tetep tidak canggung dan memang sedikit takut memulai obrolan, apalagi berdua. Dan dari sini pula lah saya belajar. Mungkin kemampuan mereka pun tidak begitu baik pula, tapi justru ini lah bagaimana kita bisa menyesuaikan diri. Yang tidak lama setelahnya kami berpisah dengan ketiga teman kami disini karna kami harus melanjutkan perjalanan ke Halong Bay. Tidak dengan kedua teman kami asli Vietnam ini, mereka menawarkan diri untuk masih bisa bertemu sepulangnya kami dari Halong Bay, dan kami menyetujuinya karna kami hanya menghabiskan 2 hari di kapal (Halong Bay) dan masih menyisakan waktu semalam untuk menginap di Hanoi kembali.

Yang menjadi destinasi utama kami selanjutnya adalah Halong Bay, tempat yang selanjutnya bisa membuat ada “hilang” lagi. Berada diatas kapal diatas hamparan perairan laut yang dikelilingi pulau-pulau kecil yang membuat kita semakin merasa “hilang” dan tak mau menemukannya dalam jangka waktu yang singkat, kami masih ingin dalam situasi seperti ini, terutama untuk saya saat itu.

Dan dari sini lagi lah saya belajar… Suatu pagi setelah subuh, saya masih merasakan ngantuk yang teramat sangat dan kelelahan dan badan kurang enak setelah meloncat dari atas deck kapal ke laut dan berenang yang pada malam harinya kami ber-karaoke ria setelah dinner semalam suntuk bersama turis-turis dari negara lain. Akhirnya saya pun ketiduran beberapa saat. Tak lama saya terbangun dalam keadaan basah, keringetan karna kegerahan karena saat kapal sedang berjalan, seluruh listrik dimatikan. Saya dibangunkan oleh kakak saya karna waktu sarapan sudah mulai dari tadi dan makanan sudah hampir habis. Karna panik dan tak tau harus berbuat apa, saya memutuskan hanya mencuci muka dan membenahi pakaian sebisanya yang saya tau, itu tidak cukup. Seperti mempermalukan diri sendiri, keluarga, yang saat itu secara tidak langsung membawa nama negara saya sendiri. Bisa dibayangkan sendiri situasi yang sangat-sangat kurang nyaman buat saya dengan sekitar yang berisikan turis-turis dari negara lain, Jerman, Perancis, Inggris, Australia, dan Taiwan.

Sesaat setelah itu, rasanya saya ingin segera kembali beberapa saat yang lalu atau mungkin berpisah dengan turis-turis lain dan berharap tak pernah ketemu lagi. Sesaat setelah itu, rasanya saya tak ingin turis-turis itu mengingat sedikit pun apa yang pernah kita bicarakan, sharing, dan bercanda tawa termasuk kejadian di pagi itu. Sesaat setelah itu, rasanya saya ingin segera menemukan diri saya yang benar-benar hilang, tanpa kutip. Sesaat setelah itu, ayo lah pulang, saya malu!

Setelah sepulangnya dari Halong Bay, sesuai rencana awal, kami kembali ke Hanoi dan berencana bertemu kembali dengan 2 orang teman kami asli Vietnam yang berencana mengajak kami berjalan-jalan malam dan ke tempat spot-spot enak di Hanoi. Kami berjalan-jalan mengelilingi sepanjang jalan di Hanoi, di malam hari. Lagi-lagi butuh benar-benar mental untuk berani mengobrol dengan mereka dan nyatanya saya pun bisa melewati malam itu dengan terus mengobrol dengan mereka menggunakan Bahasa Inggris, walaupun conversation saya masih sangat memprihatinkan.

Sampai lah pada obrolan saling menceritakan tentang negara masing-masing. Mulai dari arti lambang negara, sistem transportasi, genre musik yang populer, bahasa, masyarakatnya, dan pariwisatanya. Yang miris dan mengecewakan ketika kita mulai membahas tentang pariwisata. Tentu saja kami menceritakan tempat andalan kami untuk pariwisata, Bali. Dan seketika raut wajah mereka berdua mulai kebingungan mendengar kami menceritakan Bali, dan salah satu dari mereka berkata, “I think Bali in Malaysia..” Bagaimana perasaan Anda mendengar pertanyaan ini? BAGAIMANA BISA BALI TIDAK DI KENAL SEBAGAI SALAH SATU TEMPAT TUJUAN WISATA TERBAIK YANG ADA DI INDONESIA?

Apalagi yang mungkin bagian dari kita, Indonesia, yang telah “tercuri” oleh negara sebelah? Selemah itu kah kekuatan paten kita terhadap kebudayaan sendiri? Kemana hasil milyaran rupiah hanya untuk (katanya) Studi Banding keluar negeri yang ujung-ujungnya tidak bisa di aplikasikan di negara sendiri. Asal pergi Studi Banding tanpa survey? Meh! Bagaimana bisa Menbudpar kita, Jero Wacik bisa kecolongan hal kecil seperti ini. Mungkin ini terlihat kecil, tapi itu lah kita, suka menganggap enteng yang tiba-tiba menjadi besar pada akhirnya kelabakan sendiri. Jelas kalau kami susah percaya dengan apa yang kalian janjikan dan kerjakan, para Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang terhormat sekalian.

Obrolan ini pun kita selesaikan dengan baik dengan menahan geram masing-masing. Dan akhirnya kami berlima berjalan pulang menuju penginapan kami dan berpisah dengan kedua teman kami dari Vietnam yang kakak-beradik ini.

Keesokan harinya kita kembali ke Ho Chi Minh City untuk menginap semalam yang kita manfaatkan untuk membeli oleh-oleh karena keesokan paginya kami sudah harus kembali ke Jakarta. Keesokannya, di Bandara Saigon, kami bersiap untuk kembali ke Jakarta. Dan disinilah saya menemukan tipe traveller yang ketiga : tanpa prepare yang baik, tapi dengan biaya yang baik. Ya, tipe yang satu ini, jalan-jalan sekeluarga. Padahal mereka juga mendapatkan tiket promo yang sama dengan kami, PP 600ribu, tapi berhubung mereka sekeluarga memakai koper dan cukup besar, mereka menafsirkan perorang menghabiskan 1,3juta untuk PP. Wow, 2 kali lipat lebih.

Dan pada akhirnya kami pun tiba Jakarta dengan sudah menemukan sesuatu yang baru dari dalam diri kami, sesuatu yang kita cari yang kita inginkan dari menjalankan perjalanan yang tak sekedar perjalanan bagi kita yang benar-benar menyadarinya yang pada akhirnya kita jadi mengetahui sejauh mana kapasitas diri kita mampu dan apa yang bisa kita ambil dari perjalanan ini dengan tanpa dan jangan sekali-kali meremehkan apa pun yang mungkin nanti kita lewati karena selain membawa nama baik diri sendiri, secara tidak langsung kita juga telah membawa nama baik keluarga dan negara kita sendiri saat berkunjung negara orang lain.

Dan pada akhirnya, bagi saya, saya bisa kembali menemukan sesuatu yang hilang dari diri saya dan mengetahui apa yang harus saya lakukan setelahnya.

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca, dan mohon maaf jika kurang bermanfaat bagi yang ingin melakukan perjalanan.

NB: untuk foto-foto, saya sedang membuat pages photoblog saya sendiri yang bisa langsung di akses dari pages yang Anda baca sekarang ini 😀 muchas gracias! 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s