MY BIG DADDY

Selasa, 7 September 2010. tanggal itu bertepatan dengan 3 minggu-nya Eyang saya meninggalkan keluarga besar kami untuk selamanya. ya, pada tanggal 17 Agustus 2010 lalu, beliau telah kembali ke Rahmatullah, diasuh oleh sentuhan Allah dengan surganya.

Saya secara pribadi masih belum bisa menerima kenyataan ini, saya merasakan sakit yang amat terdalam. Saya sudah terlalu mencintai beliau, tapi mungkin saya belum bisa memberikannya apa-apa hingga saat ini, atau mungkin selama hidupnya saya menyakiti perasaannya tanpa sengaja. Hati beliau memang sangat luas yang didalamnya sangat sejuk dan rindang di bawah teduhan senyumnya. Disaat saya diberikan kesempatan untuk membanggakannya dan membuktikan bahwa saya bisa seperti kedua kakak saya yang selalu dibanggakan kepada orang banyak, ke siapa saja, beliau sudah terpanggil oleh Sang Penguasa Jagat Raya beserta isinya, Allah SWT. Di hari dimana beliau dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, air mata saya sudah tak bisa dibendung lagi, tak berhenti, karna emang saya belum bisa melepas beliau. Paling tidak, saya ingin beliau hadir dalam acara wisuda saya kelak, 3 tahun mendatang, Insya Allah. Tapi, saya tak bisa merubah apa pun selain merelakannya. Secara Islam dan iman, saya memang harus ikhlas. Mungkin ada hikmah yang sempurna secara pribadi buat saya.

Lebaran yang sudah di depan mata dan yang sudah hitungan jari tak lagi terasa seperti lebaran seperti sebelumnya, tak ada lagi rasa yang mengebu-gebu saat kita menjelang mudik atau sebagainya, hadiah uang di ujung hari lebaran pun sudah tak terasa seperti mendapat rezeki dadakan yang berlimpah sudah sperti sesuatu yang tak dinanti-nantikan lagi. Tahun ini adalah tahun pertama keluarga besar kami tak berlebaran dengan beliau.

Bagi saya, sudah tak ada lagi sapaan suara ramahnya, senyum damainya, pelukan hangatnya saat kami tiba di rumahnya yang beliau adalah orang pertama yang menyambut kedatangan kami, dan deringan handphone kami yang selalu berdering saat keluarga kami mudik ke rumah beliau. Saya merindukannya.

Yang tersisa kini hanya semangat, spirit, dan endurance yang sudah beliau tanamkan pada diri kami semua.

Beliau akan selalu menjadi ayah kami semua. See you soon, My Big Daddy :’)

Mungkin saya merasa begitu bersalah karna selama setahun saya berkuliah di Semarang, hanya 3-4 kali saya mengunjunginya.

Advertisements

One thought on “MY BIG DADDY

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s