Saya Malu

Ini hanya tulisan singkat yang membuat diri saya sangat malu saat melihatnya persis didepan mata saya, tak sampai satu meter didepan mata saya. Saat itu rasanya saya mau menangis dan merasa sangat merugi.

Saat suatu hari dalam perjalanan saya menuju Bandung bersama keluarga, sebelum akhirnya saya masuk tol, saya terjebak oleh lampu merah. Saya hanya bernyanyi mendengarkan lantunan lagu yang ada di mobil (saya posisi yang menyetir).

Ketika akhirnya Ibu saya bersut, “dek! panggil ibu penjual sapu lidi itu! dia itu tak pernah mau kalo ibu kasih uang secara begitu saja, dia ga pernah mau di kasihani.”

Sampai akhirnya ibu penjual lidi itu mendekat dan meyodorkan beberapa barang dagangannya. Sapu lidi kecil 2 = 5000, sapu lidi besar 1 = 5000. Jujur, saya masih terdiam menatap tubuhnya dan matanya yang sayu itu. Tubuhnya kecil, membungkuk lemas, dan dia hanya mempunyai satu tangan. Sampai akhirnya ibu saya bilang, “bu, beli sapu yang kecil 2 (Rp. 5000).” Saya masih diam tak bergeming, “Dek, ini kasih ibunya 10000, kembaliaanya kasih aja.” Ini yang membuat saya serasa benar-benar ingin menangis. Ketika saya memberinya uang 10000 itu, dia memberikan sebuah sapu lidi yang ukuran besar. Kami bilang, “sudah bu, tidak usah, kembaliannya buat ibu saja.” Dia menolak! Dia tetap menyodorkan sapu lidi berukuran besar itu ke dalam mobil kami. Kami bersi-kekeuh tetap hanya ingin membeli kedua sapu lidi kecil itu dengan harga 10000, dan sampai akhirnya dia mengalah, dan menerima uang pemberian kami serta membacakan beberapa doa untuk kami. Tentu saja kami amini itu.

Sampai dia berjalan kebelakang, membelakangi mobil kami, saya masih memperhatikan langkahnya terus dari mobil ke mobil yang lain melalui kaca spion mobil kami. Hingga akhirnya lampu hijau menyala dan tubuhnya tak lagi kelihatan dikaca spion.

Andai saja saya telah jadi seorang arsitek yang sukses, akan saya hidupi dan biayai hingga akhir hidupnya beserta keluarganya dan saya buatkan rumah persis di samping rumah saya.

Saya rasa ini tidak hanya sekedar harga diri baginya, atau pura-pura menolak agar lebih dikasihani, saya sama sekali tidak melihat itu dari wajahnya. Saya pikir dia mempunyai pola pikir, “mungkin saya miskin, mungkin saya kehilangan satu tangan, tapi bukan berarti saya harus menyerah terhadap hidup dan tidak bisa berbuat apa-apa.”

Saat ini saya sangat berterima kasih telah dipertemukan olehnya, berterima kasih untuk sebuah pelajaran yang tak dia sampaikan langsung kepada saya, kepada orang-orang banyak.

Advertisements

One thought on “Saya Malu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s