MOTIVATION

dari mana saya harus memulai ini? hmm..
okey, beberapa hari yang lalu, hmm, tidak, beberapa minggu yang lalu sebelum kepulangan saya ke jakarta dari semarang, terlintas dipikiran saya satu hal yang baru saya sadari.
ternyata dari sejak kecil saya sudah diperkenalkan oleh motivasi yang sebenarnya agar saya mempunyai bekal untuk saya bertahan hidup.
ya, bagi saya, motivasi adalah satu yang membuat kita masih terbangun hingga detik ini, paling tidak motivasi untuk survive terhadap cita-cita.
cita-cita itu seperti mimpi yang harus kita coba untuk merealisasikannya.
benar kata giring nidji yang biasa dia ucapkan setelah manggung : “jangan pernah takut bermimpi.”
memang iya, tapi terkadang juga harus realistis terhadap diri sendiri, paling tidak engga buat kita jadi seorang yang ambisisus.
punya ambisi itu penting memang, tapi jangan sampai kita terlalu mendalaminya, bisa-bisa itu bisa jadi boomerang buat diri sendiri kelak (bagi saya).
saya tau pasti banyak juga yang tidak setuju dengan statement saya barusan.

oke, saya akan memulai cerita sedikit tentang motivasi dalamm hidup saya.
dari sejak kecil saya tinggal di keluarga yang penuh potensi, penuh motivasi didalamnya.

contoh kecil saja, dulu, kakak kedua saya pernah berkata pada saya, saat itu kami berdua masih duduk di bangku sd, kira-kira seperti ini : gue udah nyetak 100 gol dong selama di sd, jadi nanti gue pas lulus punya bekas deh disini. hehehehe
mungkin niatnya cuma sombong, tapi dia gatau aja yang ada dipikiran saya saat itu pas ngedengernya : wuih keren, gue juga mau ngitung gol gue ah!

lalu ada lagi, pas kakak saya yang ngotot mau FK padahal kedua orangtua saya tidak setuju sama sekali.
tapi, kakak saya adalah orang yang rada keras kepala dan berkemauan keras.
dia belajar mati-matian buat membuktikan bahwa dia mampu masuk FK, dan tidak tanggung2 dia menargetkan UI di dalamnya.
nyatanya, dia memang lolos lewat SPMB pula, dan faktanya dia pun lulus tepat waktu dengan nilai yang baik.
itu motivasi? tentu saja, itu luar biasa bagi saya.
sikap berkemauan keras itu yang saya contoh, memang tak sekuat kakak saya, tapi paling tidak saya punya sikap.
ya, saat itu saya semakin yakin terhadap cita-cita saya dari SMP : ARSITEKTUR ITB.
kenyataannya pada waktu itu saya gagal masuk ITB nya, kenyataan saat ini saya tetep di ARSITEKTUR, tapi di UNIVERSITAS DIPONEGORO, Semarang.
tak apalah, yang penting saat itu gue punya sikap dan ada kemauam untuk tetap di arsitektur setelah sebelummya ibu saya menyuruh saya di psikologi saja ketimbang.
saya menolak dan saya buktikan saya memang mampu di arsitektur.
Alhamdulillah-nya gue udah sedikit memberikan pembuktian dengan IPK 3,2 hingga semester 2 ini.

kakak kedua saya bahkan secara terang-terangan berkata pada saya bahwa dia menjadikan kakak pertama saya sebagai motivasi paling besar.
simpel saja dia hanya tidak mau dibandingkan atau disejajarkan antara FKUI dengan IT BINUS yang waktu itu sudah digenggaman saat ibu saya menjawab pertanyaan orang lain apalagi sanak saudara saat bertanya tentang pendidikan anak-anaknya yang sedang ditempuh.
ini juga luar biasa bagi saya, hanaya alasan se-simpel itu yang bisa jadi motivasi terbesar untuk masuk ITB pada UM-1.

tentu saja kesimpulannya adalah saya menjadikan berdua terutama untuk motivasi saya.
yaa paling tidak saya bisa survive di hidup saya kelak dalam bidang apapun.
dan saya akan tetap terus bekerja tanpa mengeluh untuk keluarga saya nanti seperti yang ibu saya dan eyang saya contohkan pada kami.
baginya, tidak ada hari tua, tidak ada umur tua, mereka tetep bekerja untuk anak-anaknya, untuk cucu-cucunya.
kadang saya suka terharu sendiri mengingatnya, terutama ibu saya.
beliau tidak pernah absen untuk anak-anakmya, dan dia selalu berkata saya yang membuat saya untuk selalu berpikir dewasa : “peres duitnya ibu nak, gapapa, untuk kalian ibu tidak pernah perhitunga. untuk masa depan kalian, untuk kehidupan kalian kelak selama ibu masih hidup, selama ibu masih mampu.”
anak mana yang tidak ter-renyeh dan miris mendengarnya.
ya, hanya anak tidak tau diri yang bersikap seperti itu.

saat ini, kedua kakak saya adalah sumber motivasi saya dan ibu saya, beliau adalah sumber panutan sikap yang seharusnya ada di setiap orang yang beranjak dewasa bukan labil lagi.

“nak, tidak usah memikirkan kata orang lain seperti apa. jadilah diri kamu sendiri, tunjukkan siapa kamu sebenernya dengan semua kemampuan kamu. ibu cuma mau kalian bertiga bisa survive dengan kemampuan kalian, kalian harus tangguh. YANG TERPENTING ITU BUKAN SEBERAPA BESAR IPK KALIAN, SEBERAPA BANYAK PRESTASI KALIAN, TAPI BAGI IBU YANG TERPENTING ADALAH SEBERAPA KUAT SURVIVE KALIAN.” – Ibunda terkasih, Yulinar Ratih Dewayani.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s