Sadar Politik

Besok perhelatan akbar Ibu Kota Jakarta akan dimulai. Penentuan siapa yang selanjutnya mengisi kursi tertinggi di DKI Jakarta. Dan, saya sangat tertarik dengan ini.

Saya memang bukan orang yang berdomisili di DKI Jakarta, saya kecil dan besar di Bekasi. Dan, saya tau bahwa saya tidak mempunyai andil besar untuk mengharapkan perubahan di Jakarta. Tapi, saya peduli akan itu karna tidak bisa dipungkiri saya sangat dekat dengan Jakarta dan saya memang membutuhkan keberadaannya.

Bagaimana tidak? Hampir apa-apa yang saya perlukan, hampir semuanya ada disana. Hampir setiap ingin jalan-jalan pasti melewati Jakarta, tol dalam kota-nya, dan lain sebagainya.

Saya juga tidak mau bertele-tele dan angkat bicara mengutarakan pendapat tentang cagub-cagub yang sudah siap dalam arena petarungan, tapi ini memang momentum-nya.

Berdasarkan dari apa yang saya baca dari beberapa tulisan di blog Pandji Pragiwaksono (www.pandji.com) dengan judul “Gimme5”, “Titik”, “Jakarta Untuk Warga” dan sebuah tulisan di blog Angga Sasongko (http://anggasasongko.wordpress.com/2012/07/09/catatan-dari-tim-pizza/), saya mencoba untuk sedikit mengutarakan pendapat saya seputar ini.

Andai saya orang Jakarta, saya rela untuk menyempatkan pulang ke Jakarta dari Semarang hanya untuk membantu 1 suara, dan itu untuk cagub nomor 5, Faisal – Biem. Saya yakin ada harapan dari tangan 2 orang ini. Sudah itu saja, saya tidak akan membahas apa-apa tentang itu.

Tapi, 1 hal kekhawatiran saya adalah ketika mungkin semakin banyak anak-anak muda yang enggan untuk mulai sadar politik. Sadar politik bukan berarti harus menjadi politisi, paling tidak kita kritis terhadap Negara kita sendiri. Toh, bukannya nanti memang kita sebagai generasi penerusnya? Saya mungkin mengerti kalau kita terlalu sering dikecewakan oleh permasalahan yang ada, khususnya di Jakarta. Macet yang sering membuat frustasi, banjir, dan lain sebagainya. Tapi, bukan berarti kita tidak punya harapan.

Kalau lebih memilih memakai mobil pribadi, ya harus siap macet, jangan ngeluh dan itu udah resikonya. Kalau tidak mau terjebak macet, ya jangan telat berangkat dan pulangnya. Kalau males menghadapi macet, ya naik transportasi umum.

#PilkadaDKI besok bagi saya momentum dari pemecahan masalah yang sudah menjamur ini, itu pun kalau kita memang peduli dan dapat memilih cagub yang tepat. Harapan saya penuh untuk masing-masing cagub yang ada, terutama cagub pilihan saya. Harapan saya juga penuh untuk seluruh warga Jakarta untuk dapat andil dalam #PilkadaDKI besok. Sekali lagi, itu kalau kita memang peduli dengan memilih cagub yang tepat. Caranya? Tentu dengan memperhatikan dan mengenali seluruh profil para cagub-cagub tersebut. As simple as that, I think.

Golput dan apatis hanya berdampak pada kecemasan berkelanjutan dengan efek domino. Let’s vote!

Advertisements

anggasasongko

Sekitar 6 bulan yang lalu, sepulang dari kantor, handphone saya berbunyi. Di ujung telpon ada seorang yang baru saya kenal di Twitter bertanya: “Angga, kapan ada waktu? Bang Faisal Basri pengen ketemuan”. Jantung saya rasanya mau copot. “Faisal Basri ngajak saya ketemu?”… “GILAAA!!!”

Ya. Gila!

Saya gak pernah kenal Bang Faisal secara personal sebelumnya. Tapi sejak pertama kali masuk Universitas Indonesia tahun 2003, saya sering melihat beliau di stasiun kereta. Naik KRL ekonomi, sama seperti saya. Dengan sandal dan ranselnya dia berbaur. Ikut desek-desekan dan bertahan dari dorongan penumpang – penumpang yang mau turun di stasiun Lenteng Agung.

Saya juga tau Faisal Basri dari televisi dan kolomnya di Kompas. Dia ekonom yang tajam, cerdas dan berani. Tulisan – tulisannya jelas menunjukan pemikirannya yang pro-keadilan sosial dan mampu menangkap realitas masyarakat secara utuh. Selain itu Faisal Basri juga seperti ‘living legend’ bagi teman – teman aktivis di UI. Orasinya di depan…

View original post 2,873 more words

Dear, My Beloved Grandpha..

Di pengujung akhir semester ini, beberapa waktu yang lalu setelah menyelesaikan semua tanggung jawab yang ada, sendiri dalam sebuah warung makan. Pikiran entah melayang kearah mana. Aku merindukan seorang sosok yang berarti dalam hidup Aku.

Kemarin setelah datang melihat evaluasi di kampus, Aku memutuskan untuk berangkat ke kota kelahiran Ibu, Solo. Dimana di hari sebelumnya Ibu mengabarkan bahwa beliau, Bapak, dan kedua kakakku akan berangkat ke Solo. “Ini akan menjadi hari yang spesial.” kataku dalam hati. Hari itu di dalam bis, setelah mengabarkan Ibu bahwa Aku telah berangkat dan memasang headset, Aku kembali merindukannya. Tidak pernah aku berhenti merindukannya. Menghadap ke jendela hingga terkantuk-kantuk, mengingat segala hal saat Aku masih akan selalu melihat wajahnya. Ah, Aku sungguh ingin di foto wisudaku nanti ada wajahnya.

Image

Terbangun dari tidur, Aku merasa aneh. Tidak ada yang menanyakan posisiku sudah sampai mana. Tidak ada yang bisa ditelfon dan tidak ada yang membalas smsku. Jam menunjukan jam 14:25, Aku bersiap turun dari bis di persimpangan jalan yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Aku memutuskan untuk berjalan kaki saja ketimbang naik becak sambil sesekali menelfon orang rumah dan tetap tidak ada yang mengangkat. Sampai akhirnya kakakku akhirnya mengangkat telfonku dan akan menjemputku. Setelah bersamanya, Aku bertanya yang lain kemana karna daritadi sudah memberikan kabar, tapi tetap tidak ada kabar. “Tadi lagi pada ngobrol sama Yangti, hp ditinggal semua.” kata kakakku.

Sesampainya di rumah Solo, Aku membayangkan sosoknya di depan pintu depan, hal yang selalu dilakukannya ketika kami sekeluarga akan datang. Aku merebahkan badanku di sofa ruang tamu, sesekali ngobrol dan becanda dengan kedua kakakku. Aku selalu suka saat-saat seperti ini. Caring and Loving. Laughing and Talking. Dan Aku membayangkannya lagi di sudut ruangan, ikut tersenyum melihat kami becanda.

Saat makan malam tiba bersama keluarga yang ada di Solo. Quality time of course. Aku, membayangkannya lagi berada ditengah-tengah kita ikut menyantap makan malam hari itu. Malam ini terlalu cepat jika Aku harus kembali ke Semarang besok pagi-pagi sekali karna ada teman yang menikah.

Pagi ini, jam menunjukan pukul 07:05 saat Aku di drop di depan pintu terminal bis. Sepertinya jam 7 pagi dirasa terlalu cepat bagi para supir bis untuk memberangkatkan bisnya di hari Minggu. “Hari ini hampir semua bis berangkat jam 8, paling cepat jam setengah 8. Sarapan dulu aja mas.. hehehe” kata seorang supir bis kepadaku. Setelah membeli sebuah koran sebagai bahan bacaan, Aku merasa ada yang kurang karna tidak bisa menyempatkan waktu untuk mampir ke tempatnya. Tapi, Aku rasa, Aku sudah cukup mengenangnya kemarin.

Hari Kemerdekaan RI tahun ini, menjadi genapnya 2 tahun Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.


And dear, My Beloved GrandFather, I miss you a lot. I really really really miss you a lot. Aku berharap Eyangkung bisa selalu ada untuk kami semua disini, walaupun Aku tau itu tidak mungkin. Aku harap Eyang ada saat Aku wisuda nanti dan Aku melihat senyum bangga itu dari wajah Eyangkung, walaupun Aku tau itu tidak akan pernah terjadi.

Ya Allah, berikan tempat terbaik dan sebaik-baiknya yang Kau punya untuk Eyang Kakung-ku.

Ya Allah, Aku begitu merindukan sosoknya disini, sampai detik ini, sampai Aku selesai menyelesaikan tulisan ini.

Eyangkung, doaku selalu untuk Eyang.. Miss you, My Big Daddy.. :”)

“Kamu arsitek, ya?”

Sejak awal masuk kuliah jurusan Arsitektur, gue sudah mulai dan selanjutnya selalu mendengar anekdot (anekdot bukan sih istilahnya? Hahaha..) atau menurut gue sih sekedar jokes dan opini biasa bahwa mahasiswa arsitektur hanya 20% diantaranya yang akan benar-benar menjadi arsitek. Well, itu haram? Tidak dibenarkan? Menurut gue sih sama sekali engga.

Sebelumnya, dalam tulisan ini gue tidak bermaksud menyinggung perasaan siapa pun atau pun berusaha mengubah pandangan sesorang kepada seseorang tertentu lainnya. Disini… Ya, disini salah satu media yang sah sebagai penyaluran kekecewaan gue akan sesuatu. Toh gue juga punya perasaan kan ya? Kalau nantinya ada yang merasa bahwa tulisan ini “offense”, sebaiknya jangan tutup telinga sama hati, ada baiknya introspeksi dan merubah diri. Dalam tulisan ini juga, gue juga sedikit demi sedikit introspeksi diri sendiri.

Semester ini adalah semester paling buang-buang waktu, maksudnya gue yang terlalu buang-buang waktu. Dan, semester ini adalah semester yang paling melelahkan, paling capek. Capek batin. Capek fisik sih gak seberapa menurut gue, masih bisa diatasi dengan minum vitamin dan sebagainya. Lah, kalau capek batin? Ada obatnya?

Di samping beberapa masalah yang sedang gue hadapi sendiri beberapa bulan terakhir, yang hanya memang bisa diselesaikan sendirian, semester ini memang semester terberat. Ibu dan teman terpercaya gue di kampus, Yunam, adalah saksi mata dan saksi hidup gue meneteskan air mata untuk semester ini. Di kampus pula gue nangisnya, mungkin saat itu ada beberapa anak 2011 yang menyadarinya juga, saat break shalat maghrib acara Welcoming Archquake 2012. Gue malu? Gak lah, ngapain. Untuk sesuatu hal yang gak bisa lo lampiaskan dengan marah ketika bertemu dengan kelapangan hati yang jernih terpancar dari suara Ibu ditelfon, hanya air mata yang bisa tercurahkan.

Terkadang, disini gue merasa sangat bersyukur, pada kondisi seperti ini dengan masalah yang gue hadapi, telah memutuskan untuk tidak lagi bekerja sebagai Departemen 3 di Himpunan Jurusan, walaupun jujur gue sangat-sangat merindukan gue merupakan bagian di dalamnya.

Gue selalu percaya bahwa setiap masalah, setiap kejadian, setiap detik hal yang sedang kita hadapi akan ada selalu arti dibalik itu semua. Masalah ini sempat membuat gue putus asa, gue simpen ini sendiri, sampai pada akhirnya gue tumpah juga cerita dengan emosi ke temen cerita gue juga, yang juga senior gue, Didit. Walaupun dengan sigap dia menyudahi gue untuk melanjutkan cerita masalah apa yang gue alami. Paling tidak, itu cukup melegakan.

“If we try to see something positive in everything we do, life won’t necessarily become easier but it becomes more valuable.”

……

Kembali kepada topik paragraf-paragraf awal, sesekali kita pernah mendengar kata passion, dan mungkin beberapa (merasa) tau apa maksud dari passion itu sendiri.

Menurut gue pribadi, prosentase 20% tadi valid atau tidaknya itu, tidak menjadi acuan akan menjadi apa setelah lulus dari sini, jurusan arsitektur. Gue seringkali melihat sikap ketakutan dari berupa tindakan dan juga kata-kata dari beberapa orang ketika menanggapi jokes opini 20% itu. Bagi gue, disini lah peran passion, yang ada sebenarnya sudah ada di dalam diri kita, sebenarnya untuk kita temukan. Mau kemana sih arah hidup kita nanti? Kita, cepat atau lambat akan lepas dari orang tua kan? Khususnya buat cowok sih, bagi gue, selama itu bisa menghidupi orang tua gue di hari tuanya, menafkahi keluarga gue nanti, itu sudah cukup memuaskan bagi gue.

Bukan bermaksud untuk menggurui, passion itu membuat kita bahagia untuk apa pun itu yang kita kerjakan. Gak tidur berhari-hari kek, mau bolak-balik kesana kesini lah, itu gak akan kerasa kalau kita memang merasa passion kita disana. Dari buku yang gue baca, “Your Job Is Not Your Career”-nya coach Rene Suhardono (@ReneCC), dari buku ini gue belajar banyak untuk mengenali diri gue sendiri, apa pun yang gue kerjakan. Mungkin sedikit yang sadar, dalam proses ini untuk apa saja yang kita keluhkan, untuk mana saja yang kita tidak pernah berpikir 2 kali untuk mengerjakannya. Kalau memang kuliah disini emang yang di-idam-idamkan, kenapa masih juga ngeluh soal tugas dan bla-bla-bla? Masalah? Belum mengenali diri sendiri mungkin kemana arah kita sebenarnya? Capek itu manusiawi kok, ngantuk apalagi kalau didepan laptop terus, alamiah. Mengeluh itu baru yang dibuat oleh diri sendiri. Passion itu membuat kita bahagia, ada kepuasan tersendiri saat kita selesai menyelesaikannya. Kata kakak gue, “Don’t stop when you’re tired. Stop when you’re done.”

Melihat cukup seringnya gue bertemu dengan temen-temen yang melanjutkan pendidikan berdasarkan kata-kata orang tua. Bahkan dalam penentuan jalan hidupnya sendiri, diumur yang sudah sedewasa ini, peran orang tua masih sangat dominan. Gue selalu percaya dan akan selalu percaya bahwa tidak ada satu orang tua pun di dunia ini yang ingin menjerumuskan anaknya atau mungkin menjatuhkan anaknya. Tapi, guys, kita sangat sangat berhak untuk menentukan kebahagiaan kita sendiri. Sangat-sangat-sangat berhak untuk itu. Seperti yang gue bilang diatas, kita gak selamanya akan terus hidup dibawah duit orang tua.

Kalau semua orang mengacu pada “money oriented”, mau sampai kapan juga lo gak akan pernah merasa kaya dalam hidup. Tabiat manusia kan? Tidak pernah merasa puas. Gue selalu percaya harta yang kita share kesesama sesungguhnya tidak pernah hilang. Kalau ikhlas dan gak usah diinget-inget, itu akan jadi tabungan disimpen oleh Allah, dan akan dikembalikan pada saat kita memang membutuhkan. Rezeki itu udah ada jalannya masing-masing.

Pada dasarnya, untuk gue pribadi sih, selama itu masih berkaitan dengan apa yang kita pelajari di perguruan tinggi, itu sah, dan tidak harus jadi arsitek kan? Setiap orang mempunyai jalan rezeki dan hidupnya masing-masing kok. Gue dari dulu seneng banget nulis-nulis kayak gini, dan seringkali gue juga suka nulis puisi. Tapi, ya tetep sih, harus tergantung mood. Untuk puisi, kalau ada yang diinget, gue saat itu juga bisa nulis puisi buat yang lagi diinget itu. Tssaaaaahh.. Hehehe.. Dari nulis, mungkin dan gak ada yang tau, gue bisa jadi penerus Imelda Akmal? Gue hobby yang namanya traveling – backpacking, mungkin bisa jadi arsitek pariwisata? Gue cinta dunia fotografi, mungkin gue bisa jadi Sonny Sandjaya (suami Imelda Akmal) yang jadi fotografer arsitektur? Atau jadi seperti Jerry Aurum? Itu semua balik ke diri masing-masing, sejauh mana kita ingin mengenali diri kita sendiri, bukan mengenali orang lain. Dan, gue juga sangat menyukai bidang interior! Yeah! (apasih…)

Nah, pada intinya sih, paling tidak, kita harus punya sesuatu dimana harus kita gantungkan masa depan kita sendiri dan bukan bergantung sama duit orang tua lagi. Dan, ketika ada yang bertanya, “wah, lulusan arsitektur, berarti kamu arsitek ya?” “bukan, saya pegawai bank..” Sepertinya kita semua tidak akan pernah mau jika berakhir seperti ini. Iya kan? 🙂

Pahlawan Masa Kecil

Mungkin tulisan gue kali ini akan gue dedikasikan dan ditujukan untuk kakak saya, Bayu Adi Persada. Sebuah pandangan perspektif setelah kepulangannya dari tugas mulia di desa Bibinoi, pulau Bacan, sebagai Pengajar Muda dari LSM Indonesia Mengajar. Bagi seluruh anak-anak kecil dan siswa-siswa SD yang ada disana, yang sebelumnya mungkin tidak tersentuh oleh ilmu pengetahuan yang baik, mungkin kakak saya adalah pahlawan masa kecil mereka saat mereka beranjak dewasa nanti. Bagi seluruh wali murid sekaligus seluruh masyarakat yang ada disana, mungkin kakak saya adalah sesungguhnya pahlawan di bumi ini. Ya, pahlawan tanpa tanda jasa. Yang sebagaimana pemerintah hanya bisa janji untuk memberantas kemiskinan dan kebodohan di negeri ini.

Menjadi berbeda dengan teman-teman sebaya bukan lah hal yang tidak pernah muda. Di saat teman-teman seangkatan, teman-teman seperjuangannya saat masa kuliah sibuk meniti karir dengan layak, kakak saya memilih untuk memulai segalanya dengan mengabdi kepada negeri ini, melanjutkan janji kemerdekaan negeri ini, mencerdaskan bangsa. Dengan wadah sebuah Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) Indonesia Mengajar yang diusung oleh rektor Universitas Paramadina, Bapak Anies Baswedan. Resmi terbentuk tahun 2010, tidak membuat kakak saya berubah pikiran saat itu. Saya selalu percaya dan yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa keputusan yang dipilih oleh kakak-kakak saya tidak pernah gegabah, terburu-buru. Melainkan dengan pikiran yang sangat matang dan sepenuh hati, seperti saya selalu mendukungnya dengan sepenuh hati. Mereka adalah orang-orang yang selalu saya banggakan.

Pak Anies sendiri pun awalnya hanya ber-ekspektasi bahwa pendaftar mungkin sekitar 500-an, yang ternyata ada 1300-an yang mendaftar untuk mengikuti seleksi hingga mencapai 50 orang saja yang akan dikirim ke 5 daerah dan perdaerah dibagi lagi menjadi 10 desa yang berbeda. Tanpa sinyal, tanpa kemewahan, tanpa titel apa pun. Dan saya tidak heran bahwa kakak saya lolos dan termasuk di dalamnya. Tanggal 10 November 2010, kakak saya dan seluruh tim pengajar muda lain (sebutan untuk para pengajar di IM) di berangkatkan.

Setahun sudah dia mengabdi disana, dengan seluruh apa yang dia punya untuk mereka semua yang ada disana. Dan di hari terakhir ditempat pengabdiannya, sesaat sebelum kepulangannya, saat itu saya mendapatkan sms dari nya, “Diantar oleh semua warga ke pantai, banyak yg menangis. Best feeling I’ve ever had in my entire life.” Terdiam beberapa saat, bergetar, mencoba ikut merasakan apa yang saat itu kakak saya rasakan. Dan suatu saat nanti, saya berharap dapat merasakan hal yang sama dengan apa yang kakak saya rasakan waktu itu. Berarti untuk orang lain, berguna bagi orang banyak, dirindukan banyak orang karena tindakannya. Hal yang belum pernah saya rasakan seumur hidup. Semoga nanti, Amin.

Saya percaya setiap orang mempunyai jalannya masing-masing dalam menjalani dan menghadapi hidupnya untuk menjadikannya lebih bermakna dan menjadi lebih baik lagi. Ini lah jalan yang sudah ditempuh olehnya, dan selalu menyenangkan setiap mendengarkan kabar dan cerita darinya. Semoga saya dan kita semua selalu diberikan kesempatan untuk masih bisa berbagi dengan orang lain dan menjadikan hidup kita lebih baik dan lebih bermakna dari sebelumnya. Amin. 🙂

Intuisi

Bagian terbaik dalam hidup ini terkadang adalah sebuah kesendirian. Bagian terburuk dalam hidup ini mungkin adalah sebuah kesepian. Keduanya memiliki arti harfiah yang mirip meskipun memiliki makna yang berbeda.

Bisa dibilang saya adalah seseorang yang sangat menikmati adanya waktu sendiri dengan kesendirian, terutama yang saya dapat belakangan ini. Ah, tidak untuk bermuram durja tentunya, tapi lebih dari itu. Selalu memberi celah ke diri sendiri untuk serta merta jujur dengan intuisi yang bermuara di dalam hati. Kesendirian yang saya dapat belakangan bukan lah hal yang tidak pernah saya inginkan, terkadang hal ini sangatlah berarti untuk lebih mengenal diri sendiri lebih dalam. Dan terkadang inilah bagian terbaik dalam hidup, semakin tajamnya intiusi seiring kita mengenal diri kita sendiri.

Tidak banyak juga yang mengerti esensinya, atau mungkin tidak peduli? Entahlah, saya tidak terbiasa mengurusi urusan orang lain tanpa diminta. Ide-ide brilian, pemikiran mengagumkan, perasaan yang meletup-letup, bahkan kejadian-kejadian yang seringkali datang bersama saat kita menikmati kesendirian itu.

Merasakan lebih dekat dengan sesuatu yang ada dan berhubungan dengan diri kita adalah hal yang tidak pernah mudah untuk dijelaskan. Perasaan seperti seorang indigo yang tau persis apa yang mungkin terjadi padanya adalah sesuatu yang terkadang tidak bisa diterima. Sesuatu yang patut disyukuri adalah disaat kita sadar bahwa kita telah menjadi diri kita sendiri.

Kesepian terkadang hanyalah sebuah klise dari kesendirian. Kesepian sendiri terkadang datang seiring adanya kesendirian. Situasi seperti ini seringkali membuat mata kita tertutup bahwa sesungguhnya kita adalah manusia yang tidak pernah merasakan kesepian.

Entah hanya saya yang merasakan ini atau mungkin kita sama-sama merasakan bahwa pernah kah kita menyadari sebenarnya kita hanya seorang diri di kerumunan orang-orang disekitar kita? Pernah kah kita menyadari pula bahwa mereka yang ada di sekitar kita adalah hanya sebuah perhiasan dari kehidupan yang kita jalani. Begitu pula diri kita sendiri di kehidupan mereka. Semua orang datang dan pergi dalam hidup kita hanya untuk memberikan kesan, makna, dan pelajaran tertentu di hidup kita mau pun hidupnya sendiri. Dan pada akhirnya, bagaimana caranya agar kita bisa membuatnya bermakna bagi diri kita sendiri dan orang lain?

Terkadang saya berpikir, manusia yang paling bahagia di bumi ini adalah manusia yang berguna bagi orang banyak dan bagi dirinya sendiri.

Dan semua hal dalam hidup kita yang kita dapat sampai detik ini, bersyukurlah bahwa sesungguhnya itu semua yang telah menjadikan diri kita menjadi “orang” dan telah mendewasakan kita sampai saat ini. Ini semua yang membuat kita tersadar bahwa setiap orang memiliki peranan sendiri di dalam hidup kita dan orang lain, entah itu membuat hidup kita menjadi lebih baik atau menjadi buruk. Ah, saya pikir, menjadi buruk hanya untuk persepsi orang-orang yang tidak tau arti bersyukur. Begitu pula diri kita memiliki peranan tertentu dalam hidup orang lain dan bagaimana kita membuatnya berharga.

…..

ketika hubungan satu, dua, tiga, atau banyak orang diputus denganmu, yang membuat kamu hidup sekarang adalah memori tentang mereka

orang datang dan pergi. ada yang datang hanya untuk memberimu pelajaran. ada yang datang dan bertengkar, lalu kembali lagi. ada juga orang yang pergi dan tidak mau ditemui lagi.

bagiku bukan masalah sakitnya,

bukan masalah ketika kau bertemu dengannya, ia hanya membuang muka

tetapi simpanlah semua yang kau dapat darinya, apapun yang kau sukai darinya, agar kau bisa menjadi orang yang lebih baik

karena manusia datang dan pergi, dewasalah

from : Sarah Soeprapto, on Tumblr >> http://sarahsoeprapto.tumblr.com/post/11440656641

Puisi Cinta… Janji Pulang…

Kita nyaris tidak pernah mengetahui apa makna dari sebuah pertemuan. Sebelumnya, mungkin kita juga tidak akan pernah tau hari ini, esok hari, atau kapan pun itu dipertemukan siapa. Makna dan pertanda tidak pernah bicara, hanya kita sendiri yang harus mempercayainya. Satu hal, setiap pertemuan pasti memiliki satu makna.

…..

Aku tidak pernah meminta kepada Tuhanku untuk dipertemukan dengan siapa pun dalam waktu kapan pun.

Dan aku tidak pernah meminta bahwa haruslah kamu yang datang dan singgah disini, kamu tau itu dimana.

Tapi, rencana-Nya memang benar adanya, tak ada yang pernah mengingkarinya.

Sudah, kita sudah dipertemukan, walau tanpa satu alasan pun yang pasti, tak ada yang mengetahuinya.

…..

Terkadang kita terlalu munafik dengan apa yang kita rasakan, padahal kita merasakannya. Terkadang kita terlalu naif untuk segala cerita yang kita lalui, padahal kita dekat. Kenapa harus memilih menutup diri untuk yang kita tau pasti, kata hati. Kenapa kita harus menutup mata untuk sesuatu yang memang ada di depan mata.

…..

Aku tak pernah berusaha menutupi ini semua, apa yang aku rasakan.

Air mengalir begitu saja, walau tanpa derau-derau angin.

Ah, begitu pula rasa ini, tidak pernah aku sangkal suaranya yang berbicara karna aku memang mempercayainya.

Lalu, kenapa masih saja kita bersembunyi darinya?

Mereka mempunyai jalannya untuk mempertemukannya.

Lalu, kenapa kita tidak mempercayainya?

…..

Suaranya sesungguhnya dekat, tapi masih saja tak mau mengakuinya. Detaknya begitu terasa, tapi masih saja mengacuhkannya. Apa yang sesungguhnya kita cari?

…..

Dan, kenapa masih saja kita bersembunyi?

Apa yang patut dipersalahkan akan keberadaannya?

Kita sama tau, jarak bukanlah sesuatu yang memisahkan.

Tidak kah pula kau mendengarnya disana?

Sesuatu yang dalam, dan tak pernah tersentuh.

…..

Ketika semua ini sudah pada waktunya, janji ini tidak akan pernah lari. Atau mungkin justru kita kah yang lari darinya?

…..

Mungkinkah masih kau pertanyakan ini semua?

Atau sudah tak terpedulikan lagi?

Pada akhirnya aku pun kan tetap kembali pulang.

Membawa janji yang sama, jika saja kau mau tau.

Siapa Lagi Kalau Bukan Kita?

Bermula dari Twitter, pemikiran ini mulai berkembang. Opini yang timbul bukan hanya 1-2 kejadian, 1-2 minggu, atau pun 1-2 bulan. Dan memang bersifat subjektif. Bermula dari Twitter, saya merasa cukup beruntung dengan tokoh-tokoh/akun-akun yang saya follow. Saya menemukan wawasan. Saya mengendus adanya koneksi. Saya bisa melihat dunia dari sudut pandang yang lain, dari sudut micro-blogging yang hanya mempunyai 140 karakter.

Rene Suhardono, Career Coach yang ada di timeline akun Twitter saya, dalam bukunya “Your Job Is Not Your Career” kurang lebihnya tertulis bahwa pelajaran sesungguhnya bukan yang di dapat di sekolah atau pun di rumah, melainkan pelajaran sesungguhnya adalah yang di dapat diantara keduanya. Dengan kata lain, pelajaran sesungguhnya adalah yang ada di lingkungan sekitar kita dan pengalaman-pengalaman yang kita alami. Hal yang sama juga pernah disampaikan oleh Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina dan pendiri LSM Indonesia Mengajar.

Terkadang kita terlalu sering untuk mengomentari sesuatu yang sedang berkembang tanpa dasar. Mungkin itu juga yang ada di benak Anda saat membaca tulisan ini. Kita terlalu mudah tersulut emosi dan dicuri atensi kita untuk hal-hal yang tidak penting, tidak genting yang seharusnya bisa di terima dulu dengan baik sebelum mencernanya dan menanggapinya berlebihan. Terlalu sulit sepertinya jika kita mencernanya dengan baik lalu di pahami yang di lanjutkan dengan komentar atau mungkin kritik yang mempunyai dasar. Dan yang terpenting tidak berlebihan. Kita terlalu sering menanggapi beberapa masalah dari judul saja, lalu memaki, mencela dengan emosi setelah di klarifikasi dengan penjelasan yang baik, tiba-tiba saja segala macam makian tadi lenyap ditelan tanpa rasa bersalah. Yang, kondisi seperti ini, biasanya ditanggapi oleh orang-orang yang seumuran dengan saya.

Kondisi ini berbalik 180 derajat ketika hal-hal yang muncul adalah kondisi-kondisi genting, sepi tanpa tanggapan dan tidak ingin tau. Yang seharusnya ini bisa lebih diterima oleh anak-anak muda yang kritis, tapi rasa kritis yang ada di negara ini telah terkikis dikit demi sedikit dengan sendirinya karena nuansa pesimis yang keluar dari para petinggi di negeri ini. Tapi, bukan berarti tanpa harapan kan? Justru harapan itu seharusnya ada di dalam diri pemuda-pemudanya yang kritis yang saat ini nyaris hilang. Presiden Soekarno dulu pernah berkata dalam pidatonya, “Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia.” Rasa pesimis yang muncul tanpa diminta karena beberapa kejadian yang muncul di negeri ini membuat seakan kita putus asa dengan apa yang sudah-sudah.

Pada intinya, saya sesungguhnya adalah salah satu yang sangat menikmati adanya Twitter karna saya melihat adanya kemudahan di zaman modern seperti ini untuk berbagi ilmu, berbagi informasi, berbagi ketertarikan akan sesuatu, bertukar pikiran, berbagi lelucon satu sama lain. Bukan berbagi curhatan keluhan yang terus diulang-ulang atau pun pencitraan semacamnya. Anehnya, yang saya perhatikan semenjak mengenal Twitter, justru orang-orang sangat menikmati tweet-tweet ngobrol, tweet marah, tweet ngeluh, tweet nyinyir, tweet sejenis “laper nih” “mau makan, tapi bingung makan apa”, dsb. Memang sepenuhnya hak setiap pemilik akun Twitter mau menulis apa dalam akun-nya, tapi saya cukup merasa pesimis pula dengan melihat teman-teman saya sederajat dengan tingkat keprihatinan dan tingkat ke-kritisan terhadap negara ini semakin menipis terkikis seiring dengan rasa pesimis yang datang dari negeri ini pula.

Sebuah akun dalam timeline saya, Jed Revolutia, beberapa hari lalu menulis, “Salah 1 yg bisa kt lakukan u/ pendidikan di Indonesia adalah dgn ngetweet sambil transfer ilmu & informasi ke orang lain” yang langsung saya “mark as favorites” karna saya setuju dengan pernyataan ini, sangat setuju. Jed tidak melulu men-tweet hal-hal yang serius, sesekali, termasuk sering dia pun menulis hal-hal yang menarik dan enak dibaca. Selanjutnya, Ridwan Kamil, yang tidak perlu lagi saya jelaskan siapa orang ini, menulis di akun-nya, “Mahasiswa. Punya cerdasnya. Punya staminanya. Tinggal banyakin pedulinya.”

Ketika seseorang selalu minta “follow back”, saya berpendapat, khususnya untuk saya pribadi, seharusnya mereka mempunyai sesuatu yang pantas untuk dibaca followers-nya. Keluhan dan curhatan bukanlah satu-satunya yang ingin dibaca dalam akun Twitter-nya.

Kita lah, anak-anak muda yang masih mempunyai spirit untuk menebarkan optimis di negeri ini, di muka bumi ini sebagai penerus sebuah tatanan yang sudah ada saat ini. Bukan malah menebar pesimis yang nyaris sudah tidak bisa ditampung lagi oleh negeri ini. Kalau bukan kita, lalu siapa lagi?

Bukan Sekedar Perjalanan, Terlalu Naif.

Akhirnya nge-post  cerita jalan-jalan saya juga bulan Juli kemarin selama hampir 2 minggu menjelajahi Kamboja dan Vietnam bersama kedua kakak saya yang sudah lebih berpengalaman sebelumnya. Sebelumnya, jika Anda lebih menginginkan model cerita yang lebih bermanfaat untuk mungkin bisa kalian jadikan panduan ketika berencana kedua negara ini, silahkan mengunjungi blog kakak saya, Bintang Pramodana. Yang kebetulan link-nya ada di sebelah kanan page ini, di “Recommended Blog You Must Read”. Atau tinggal klik link ini polaroidhitamputih.wordpress.com karena saya akan bercerita dari sudut pandang yang berbeda, sudut pandang seorang pemula yang seketika addict sekali dengan yang namanya travelling and backpacking. You must try!

Preparation

Apa hal yang paling malesin dan membosankan dari berpergian apalagi ke luar negeri? Yak, tidak lain dan tidak bukan adalah packing! Andai saja kita bisa tinggal tidur dan terbangun dengan keadaan semua keperluan dan barang-barang bawaan sudah siap untuk diangkut. Ah sudahlah, tidak mungkin terjadi sampai kapan pun. Di bagian ini memang berencana tidak terlalu membahas apa pun, sekali lagi, masih pemula. hehehehe :p Tapi, bagian ini adalah tahap awal yang harus, wajib, mutlak untuk teliti dan berhati-hati dalam pengerjaannya. Oh ya, dilakukan sendiri itu lebih baik untuk perjalanan backpacking. Kenapa? Karna yang sepenuhnya mengetahui jadwal kita saat berpergian adalah kita sendiri, jadi kita harus tau betul medan disana seperti apa serta penempatan barang-barang kita saat proses packing. Sekali lagi, ini backpacking, sangat-sangat tidak dianjurkan untuk membongkar tas sebesar itu, repot!

Esensi yang saya dapat setelah melakukan backpacking  ini adalah bagaimana kita bisa menikmati perjalanan, melihat betapa Maha Besar-nya kuasa Tuhan atas ini semua, betapa Maha Kaya-nya Keagungan-Nya tanpa perlu sibuk menggeret tas koper kesana-kemari. Cukup dengan membawa tas backpack besar untuk jalan-jalan, maka kita tidak perlu rept memikirkan yang lainnya. Sebagian besar dengan asumsi pendek bahwa bacpacking juga harus ber-budget minim yang benar adanya. Apalah arti backpacking  jika kita tetap membawa uang banyak untuk makan-makan mahal, jalan-jalan (yang biasanya tidak penting tujuannya) dengan biaya tidak sedikit, dan berujung pada membeli oleh-oleh seabrek yang membuat tas kita over-baggage atau membuat tas kita penuh dengan barang belanjaan seperti Ibu-Ibu belanja di Mall saat diskon besar. Anda bisa mencobanya kalau tidak percaya.

Dan esensi dari travelling itu sendiri : “We travel, initially, to lose ourselves; and we travel, next, to find ourselves.”  -Pico Iyer. Adalah kesalahan besar jika kita jalan-jalan hanya untuk refreshing, apalagi ke negara orang. Dan inilah yang saya akan bagi ke kalian semua : ke-NAIF-an saya bahwa ini hanya jalan-jalan semata, menyegarkan pikiran akan kesibukan sehari-hari. Belajar dari kesalahan orang lain itu lebih baik, jangan anggap remeh apa pun yang mungkin akan kalian hadapi.

Kamboja

Kami tiba pertama kali di Vietnam, Saigon, Ho Chi Minh City, tapi hanya semalam dan keesokan harinya kami baru memulai petualangan di negeri tetangga Vietnam, Kamboja. Mungkin banyak orang yang tidak mengetahui apa yang bisa dilihat dan dikunjungi di Kamboja atau mungkin Vietnam, terkadang malah terdengar meremehkan. Well, seperti hal nya manusia pada umumnya, setiap negara di bumi ini pasti mempunyai kelebihan, cerita sejarah yang menakjubkan, dan keunikan sendiri hanya saja kita terkadang selalu underestimate untuk hal yang belum dicoba.

Kota pertama yang kita jejaki sesampainya di Kamboja adalah tentu saja Ibu Kota-nya, Phnom Penh, tepatnya di sepanjang Riverside, dekat dengan Royal Palace. Kita menuju Phnom Penh dengan menggunakan bis yang dilalui dari Ho Chi Minh City sekitar 9-10 jam yang tentu saja mampir di perbatasan untuk mengurus paspor dan lain-lain. Dan disinilah saya bertemu orang Indonesia pertama di perjalanan kami, tipe pertama traveller : tanpa persiapan, modal uang menengah. Dan kami adalah tipe/golongan traveller dengan persiapan matang dan budget rendah, ah setidaknya untuk kedua kakak saya. Untuk tipe traveller nekat seperti yang kami temukan tadi, sangat-sangat tidak disarankan bagi saya karna kalian hanya “Get Lost” tanpa tau harus kemana. Orang ini kira-kira berumur 40an keatas. Dia berada ke Vietnam-Kamboja hanya untuk berjalan-jalan tanpa tau tempat apa saja yang pantas dikunjungi. Bahkan dia juga tidak mengetahui bagaimana seharusnya mengurus paspor di perbatasan Vietnam-Kamboja dan belum mem-booked penginapan. Mungkin terlihat seru ya, tapi sangat-sangat wasting time buat saya, mau seberapa banyak uang yang sudah Anda siapkan. Okelah, skip ya, karna pada akhirnya kami pun berpisah dengan Bapak tadi yang memang agak sedikit annoying. hehehe.

Bis kami selanjutnya sudah siap mengantar kami menuju Siem Reap, dan disini kami menemukan tipe traveller kedua : dengan persiapan matang dan tentu saja dengan uang “cukup”. Yak, menengah keatas. Setiap perjalanan mereka di setiap kota menggunakan mobil sewaan dan sekaligus driver-nya. Jelas sekali sepertinya uang bukanlah masalah buat mereka. Tapi, mereka pun tak asal jalan-jalan begitu saja. Mereka sudah mempunyai perencanaan yang matang dengan sudah memilih spot-spot terbaik tempat yang mereka kunjungi. Di Siem Reap, tempat yang wajib kita kunjungi adalah Angkor Wat. Sebuah kawasan candi-candi yang mungkin didalamnya ada ratusan atau mungkin ribuan candi di dalamnya. Adalah sulit dan sangat kelelahan jika kami harus memutuskan untuk melihat/mengunjungi semuanya yang jarak antar candi pun bisa ber-kilo-kilometer. Dan kami memilih untuk menikmati perjalan kami dengan sepeda yang harga sewanya 1$ seharian! Ber-kilo-kilometer kita lalui, kita menggoweskan sepeda kami. Dan sampai lah kita pada candi pembuka yang gate-nya saja hampir sebesar candi Borobudur. Berbeda sekali dengan tipe traveller kedua yang mengelilingi Angkor Wat dengan mobil. How I envy you! Tapi, memang inilah yang kami cari, yang kami inginkan dari perjalanan kami. Sebuah makna yang mungkin tak semua bisa mendapatkannya.

Sekali lagi, sebelum meneruskan cerita selanjutnya, saya mungkin tidak bisa menyajikan hal-hal detail yang bermanfaat atau info-info yang berguna bagi perjalanan Anda karna yang saya tuliskan disini adalah hal-hal yang saya dapatkan sebagai traveller pemula yang didampingi oleh traveller-traveller berpengalaman yaitu kedua kakak saya sendiri.

Kami melanjutkan dengan mengayuh sepeda kami terus menerus menuju satu candi ke candi lainnya. Rasa capek dan lutut kiri yang sering sekali kambuh karna mengayuh sepeda dan berjalan ber-kilo-kilometer sering kali membuat hati ciut untuk meneruskannya. Tapi, itu semua terbayar dengan melihat dan merasakan kuasa Tuhan yang agung serta ketakjuban, keheranan melihat sebuah karya manusia dulu membuat sebuah kawasan candi-candi dengan batu-batu besar yang mungkin beratnya nyaris 1 ton, atau lebih? Entahlah, yang jelas pembangunan ini tanpa bantuan alat berat sedikit pun.

Dan karena perjalanan panjang ini lah yang membuat saya “hilang” tanpa arah dan kemudian menemukannya lagi sebagai sesuatu yang baru di dalam diri saya. Ada yang berbeda dan ada yang tak pernah saya rasakan sebelumnya. Ini lah yang biasa dicari beberapa traveller dalam setiap perjalanannya. Get Lost – Learn – Live. Menurut saya ini hanya akan tersadari bagi orang-orang yang mau menyadarinya. Mungkin kalau saja saya tidak diingatkan dari awal oleh kakak saya, saya mungkin tidak menyadarinya. Pada awalnya memang tidak, tapi saya sudah menyadari dan mempunyai keputusan.

Vietnam

Disini mungkin saya akan mulai bercerita dari beberapa hari sebelum sampai sesudah dari Halong Bay. Sebelum keberangkatan kami ke Halong Bay, kami bertemu dan berkenalan beberapa teman di Vietnam, 1 dari Korea, 2 dari Vietnam (Hanoi). Disini lah semua mental kita bermula, ngobrol dengan orang lain yang berbeda negara, jangan pernah remehkan bagian ini, sekali pun! Saya hanya berusaha berbicara sebisanya yang saya yakin secara gramatically hancur berantakan, kacau balau. Tapi, saya tetep tidak canggung dan memang sedikit takut memulai obrolan, apalagi berdua. Dan dari sini pula lah saya belajar. Mungkin kemampuan mereka pun tidak begitu baik pula, tapi justru ini lah bagaimana kita bisa menyesuaikan diri. Yang tidak lama setelahnya kami berpisah dengan ketiga teman kami disini karna kami harus melanjutkan perjalanan ke Halong Bay. Tidak dengan kedua teman kami asli Vietnam ini, mereka menawarkan diri untuk masih bisa bertemu sepulangnya kami dari Halong Bay, dan kami menyetujuinya karna kami hanya menghabiskan 2 hari di kapal (Halong Bay) dan masih menyisakan waktu semalam untuk menginap di Hanoi kembali.

Yang menjadi destinasi utama kami selanjutnya adalah Halong Bay, tempat yang selanjutnya bisa membuat ada “hilang” lagi. Berada diatas kapal diatas hamparan perairan laut yang dikelilingi pulau-pulau kecil yang membuat kita semakin merasa “hilang” dan tak mau menemukannya dalam jangka waktu yang singkat, kami masih ingin dalam situasi seperti ini, terutama untuk saya saat itu.

Dan dari sini lagi lah saya belajar… Suatu pagi setelah subuh, saya masih merasakan ngantuk yang teramat sangat dan kelelahan dan badan kurang enak setelah meloncat dari atas deck kapal ke laut dan berenang yang pada malam harinya kami ber-karaoke ria setelah dinner semalam suntuk bersama turis-turis dari negara lain. Akhirnya saya pun ketiduran beberapa saat. Tak lama saya terbangun dalam keadaan basah, keringetan karna kegerahan karena saat kapal sedang berjalan, seluruh listrik dimatikan. Saya dibangunkan oleh kakak saya karna waktu sarapan sudah mulai dari tadi dan makanan sudah hampir habis. Karna panik dan tak tau harus berbuat apa, saya memutuskan hanya mencuci muka dan membenahi pakaian sebisanya yang saya tau, itu tidak cukup. Seperti mempermalukan diri sendiri, keluarga, yang saat itu secara tidak langsung membawa nama negara saya sendiri. Bisa dibayangkan sendiri situasi yang sangat-sangat kurang nyaman buat saya dengan sekitar yang berisikan turis-turis dari negara lain, Jerman, Perancis, Inggris, Australia, dan Taiwan.

Sesaat setelah itu, rasanya saya ingin segera kembali beberapa saat yang lalu atau mungkin berpisah dengan turis-turis lain dan berharap tak pernah ketemu lagi. Sesaat setelah itu, rasanya saya tak ingin turis-turis itu mengingat sedikit pun apa yang pernah kita bicarakan, sharing, dan bercanda tawa termasuk kejadian di pagi itu. Sesaat setelah itu, rasanya saya ingin segera menemukan diri saya yang benar-benar hilang, tanpa kutip. Sesaat setelah itu, ayo lah pulang, saya malu!

Setelah sepulangnya dari Halong Bay, sesuai rencana awal, kami kembali ke Hanoi dan berencana bertemu kembali dengan 2 orang teman kami asli Vietnam yang berencana mengajak kami berjalan-jalan malam dan ke tempat spot-spot enak di Hanoi. Kami berjalan-jalan mengelilingi sepanjang jalan di Hanoi, di malam hari. Lagi-lagi butuh benar-benar mental untuk berani mengobrol dengan mereka dan nyatanya saya pun bisa melewati malam itu dengan terus mengobrol dengan mereka menggunakan Bahasa Inggris, walaupun conversation saya masih sangat memprihatinkan.

Sampai lah pada obrolan saling menceritakan tentang negara masing-masing. Mulai dari arti lambang negara, sistem transportasi, genre musik yang populer, bahasa, masyarakatnya, dan pariwisatanya. Yang miris dan mengecewakan ketika kita mulai membahas tentang pariwisata. Tentu saja kami menceritakan tempat andalan kami untuk pariwisata, Bali. Dan seketika raut wajah mereka berdua mulai kebingungan mendengar kami menceritakan Bali, dan salah satu dari mereka berkata, “I think Bali in Malaysia..” Bagaimana perasaan Anda mendengar pertanyaan ini? BAGAIMANA BISA BALI TIDAK DI KENAL SEBAGAI SALAH SATU TEMPAT TUJUAN WISATA TERBAIK YANG ADA DI INDONESIA?

Apalagi yang mungkin bagian dari kita, Indonesia, yang telah “tercuri” oleh negara sebelah? Selemah itu kah kekuatan paten kita terhadap kebudayaan sendiri? Kemana hasil milyaran rupiah hanya untuk (katanya) Studi Banding keluar negeri yang ujung-ujungnya tidak bisa di aplikasikan di negara sendiri. Asal pergi Studi Banding tanpa survey? Meh! Bagaimana bisa Menbudpar kita, Jero Wacik bisa kecolongan hal kecil seperti ini. Mungkin ini terlihat kecil, tapi itu lah kita, suka menganggap enteng yang tiba-tiba menjadi besar pada akhirnya kelabakan sendiri. Jelas kalau kami susah percaya dengan apa yang kalian janjikan dan kerjakan, para Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang terhormat sekalian.

Obrolan ini pun kita selesaikan dengan baik dengan menahan geram masing-masing. Dan akhirnya kami berlima berjalan pulang menuju penginapan kami dan berpisah dengan kedua teman kami dari Vietnam yang kakak-beradik ini.

Keesokan harinya kita kembali ke Ho Chi Minh City untuk menginap semalam yang kita manfaatkan untuk membeli oleh-oleh karena keesokan paginya kami sudah harus kembali ke Jakarta. Keesokannya, di Bandara Saigon, kami bersiap untuk kembali ke Jakarta. Dan disinilah saya menemukan tipe traveller yang ketiga : tanpa prepare yang baik, tapi dengan biaya yang baik. Ya, tipe yang satu ini, jalan-jalan sekeluarga. Padahal mereka juga mendapatkan tiket promo yang sama dengan kami, PP 600ribu, tapi berhubung mereka sekeluarga memakai koper dan cukup besar, mereka menafsirkan perorang menghabiskan 1,3juta untuk PP. Wow, 2 kali lipat lebih.

Dan pada akhirnya kami pun tiba Jakarta dengan sudah menemukan sesuatu yang baru dari dalam diri kami, sesuatu yang kita cari yang kita inginkan dari menjalankan perjalanan yang tak sekedar perjalanan bagi kita yang benar-benar menyadarinya yang pada akhirnya kita jadi mengetahui sejauh mana kapasitas diri kita mampu dan apa yang bisa kita ambil dari perjalanan ini dengan tanpa dan jangan sekali-kali meremehkan apa pun yang mungkin nanti kita lewati karena selain membawa nama baik diri sendiri, secara tidak langsung kita juga telah membawa nama baik keluarga dan negara kita sendiri saat berkunjung negara orang lain.

Dan pada akhirnya, bagi saya, saya bisa kembali menemukan sesuatu yang hilang dari diri saya dan mengetahui apa yang harus saya lakukan setelahnya.

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca, dan mohon maaf jika kurang bermanfaat bagi yang ingin melakukan perjalanan.

NB: untuk foto-foto, saya sedang membuat pages photoblog saya sendiri yang bisa langsung di akses dari pages yang Anda baca sekarang ini 😀 muchas gracias! 😀